Rabu, 03 April 2013

Sejarah Perkembangan Kota

Assalamu ‘Alaikum Wr. Wb.

        Berbicara tentang Sejarah Perkembangan Kota. Sebelumnya kita harus mengetahui terlebih dahulu, apa sebenarnya definisi dari sejarah..??

       Sejarah adalah satu kajian untuk menceritakan satu kitaran jatuh bangunnya seorang tokoh, masyarakat dan peradaban. Demikian jika kita tinjau dari segi bahasa atau dari kamus besar bahasa indonesia.

        Jadi, jika kita memiliki buku-buku sejarah, di buku itu kita bisa menemukan bahwa kata sejarah berasal dari bahasa Arab yaitu Syajarotun yang artinya pohon. Dalam bahasa Arab kita ketahui bahwa sejarah atau Syajarotun sama artinya dengan sebuah pohon yang terus berkembang dari tingkat yang sangat sederhana ke tingkat yang lebih kompleks atau ke tingkat yang lebih maju. Itu sebabnya, sejarah diumpamakan menyerupai perkembangan sebuah pohon yang terus berkembang dari akar sampai ranting yang terkecil.

         Nah, sekarang kita sudah mengetahui definisi sejarah, selanjutnya mengenai Sejarah Perkembangan Kota.

         Manusia, sebagai pelaku kegiatan pada suatu kota pasti memiliki suatu pemikiran dalam melakukan kegiatan dalam hidupnya. Pola pemikiran manusia akan berbeda dari suatu era ke era yang lain. Hal yang membedakan pola pemikiran tersebut antara lain tingkat intelektualitas, jenjang kebutuhan hidup, teknologi yang berbeda di setiap eranya dan selalu berkembang. Perkembangan faktor-faktor inilah yang juga menjadi faktor perkembangan suatu perancangan kota.

Sejarah Pekembangan Kota yang dibagi 8 era, yaitu;

 

1. Era Babilonia/Mesopotamia (4000-3000 SM)

Era Babilonia juga disebut Mesopotamia dimana merupakan suatu daerah diantara 2 sungai Eufrat dan Tigris. Daerah ini biasa disebut daerah subur bulan sabit, karena tanahnya yang subur dan menyerupai ulan sabit. Kota Mesopotamia kuno secara geografis tidak memiliki benteng/perlindungan alam suatu kota, hal ini menyebabkan kota tersebut seringkali dikuasai bangsa asing silih berganti. Meskipun dalam perancangan kotanya sudah menerapkan sistem kota benteng dengan membangun benteng di garis luar kota Msopotamia dengan dilengkapi parit-parit.

Beberapa ciri kota di era Mesopotamia antara lain:

a.  Motivasi masyarakat tinggal di kota tersebut adalah untuk jaminan keamanan dan peribadatan.

b.    Berbentuk kota benteng (dikelilingi benteng-benteng)

c.    Pusat kota/benteng berupa zigurat sebagai kuil penyembahan dewa. 

d.  Memiliki karakter kota taman gantung.

  2. Mesir Kuno (1400 SM)

Berbeda dengan Mesopotamia, kota-kota di Mesir Kuno (Kahun dan Giza) tidak memiliki benteng-benteng yang mengelilingi kota. Hal ini mungkin disebabkan oleh kekuasaan Fir’aun yang menjadi sentral untuk melindungi seluruh kota. Beberapa poin ciri perancangan kota di era Mesir kuno antara lain:

a.    Bentuk kota yang grid.

b.    Perumahan penduduk saling membelakangi

c.    Perumahan besar berderet di sepanjang jalan besar 

d.    Penduduk bergerak di bidang pertanian dan konstruksi bangunan

 3. Era Yunani (500 - 146 SM) 

  • Era Yunani termasuk salah satu era yang berpengaruh secara berkelanjutan dalam perkembangan kota. Pada Era Yunani, tempat tinggi/bukit sangat disakralkan. Tempat tinggi tersebut berupa benteng puncak bukit yang digunakan sebagai tempat peribadatan kepada para dewa.

    Beberapa point ciri yang bisa diambil dari urban design Yunani kuno antara lain:

    a.   Arsitek di zaman Yunani Kuno dalam merancang kota memiliki pandangan yang dominan tentang keterbatasan. Sehingga menyikapi keterbatasan tersebut, segala ide harus terukur sehingga komprehensif dan bisa dikerjakan.

    b.  Karena faktor tersebut diatas, maka perancangan menggunakan skala  manusia.

    c.  Pandangan keterbatasan juga membuat rumah-rumah hanya bangunan-bangunan kecil di kota yang bercampur-campur.

    d.    Jaringan jalan bukan merupakan pola pembentuk kota, melainkan lahan-lahan sisa yang digunakan untuk sirkulasi saja, Namun memiliki pola sejajar/grid.

    e.   Kegiatan yang bersifat publik (pertemuan) lebih banyak di rumah, daripada di ruang yang semestinya menjadi ruang publik seperti jalan.

    f.    Motifasi hidup pada era Yunani adalah untuk berlindung / mencari keamanan.

4. Era Romawi (500-324 SM)

Pada era Romawi, penduduk memiliki motivasi hidup selain keamanan juga karena adanya kekuatan politik dan organisasi. Beberapa point ciri yang bisa diambil dari perancangan kota Romawi Kuno antara lain:

a.   Tidak lagi menggunakan skala manusia, karena proporsi disini mengacu pada hubungan harmonis antar bagian-bagian bangunan.

b.    Proporsi bangunan biasa menggunakan modular, dan modular tersebut panjang-panjang dan lebar-lebar. Hal ini menggambarkan bahwa kekuatan politik pada era Romawi begitu kuat.

c.     Dalam perancangan kota, juga menggunakan modul yang abstrak, berupa deretan rumah-rumah. 

d.   Dalam suatu kota, benteng merupakan bangunan yang utama untuk dibangun terlebih dahulu, kemudian baru diikuti rumah-rumah penduduk di dalam benteng tersebut.

 

 5. Abad Pertengahan (800-1200 M)

Asal mula munculnya kota-kota di abad pertengahan adalah kemunduran Romawi yang meninggalkan banyak dampak di penjuru Eropa dimana tumbuh komunitas-komunitas kecil yang berkembang menjadi komunitas baru karena memiliki lokasi tapak yang layak dan subur. Komunitas tersebut tumbuh menjadi kota yang hidup dan terus berkembang, sehingga kota bentengpun terus berkembang. Point yang bisa disimpulkan dari kota di abad pertengahan antara lain:

a.   Motivasi hidup juga untuk keamanan dan mengembangkan persaudaraan (Sosialitas)

b. Kota benteng yang ada, sedikit demi sedikit dikuasai oleh biara-biara, sehingga menjadikan biara tersebut sebagai pusat kota.

c.    Benteng yang melindungi kota berbentuk melingkar.

d.  Kota kecil di sekitar biara dan benteng tumbuh secara natural dari pintu gerbangnya hingga membentuk jaringan jalan dan berpola radiocentric (radial).

e. Awalnya kota berupa kota benteng yang biasa dilukiskan dengan ilustrasi suatu pemandangan kota dengan benteng dari jarak jauh, selanjutnya menjadi suatu kota yang hidup dengan kasta-kasta biara dan terdapat banyak pedagang dan biarawan.

f.   Memiliki pandangan keterbatasan ruang seperti era Yunani dan mulai menggunakan  penataan abstrak seperti aksis.

g.    Menggunakan skala manusia.

h.  Kota di abad pertengahan bersifat tangibel/terlihat atau mudah dikenalidan tidak disorientasi. Sebagai contohnya, suatu koridor jalan akan memperlihatkan suatu menara gereja dimana selalu terlihat sepanjang jalan itu, sehingga bisa digunakan sebagai ancar-ancar sehingga tidak akan tersesat.

i.      Menghindari long vista. 

j.   Tidak memiliki hierarki jalan.

 

6. Renaissance (1400-1500 M)

Sebelum era Renaissance, di abad XV dimana merupakan fajar ilmu pengetahuan, ditemukan bubuk mesiu sehingga di era Renaissance memiliki motivasi hidup yang berbeda dari era-era sebelumnya, karena kota benteng di era ini sudah tidak berfungsi lagi, karena senjata perang bisa menggunakan bahan peledak yang bisa meledakkan benteng sekalipun. Beberapa ciri yang bisa diambil dari kota di Era Renaissance antara lain:

a.   Era Renaissance dimulai pada tahun 1440

b. Bentuk kota bintang dengan jalan yang bercabang dari titik pusatnya. Titik pusatnya biasa berupa gereja/biara.

c.    Perancangan on paper (diatas kertas)

d.    Bentuk bangunan simetris penuh dan bersifat utopian. 

e.  Motivasi hidup terutama untuk bersosialitas dan peribadatan ditandai dengan gereja sebagai pusatkota.

 

 7. Baroque (1700-1800 M)

Arsitektur Renaissance yang cenderung menerapkan simetris murni, menimbulkan kesan monoton, sehingga para seniman di era Baroque (1600-1750) mencoba bereksperimen dengan memvariasi karya seni dengan melebih-lebihkan komposisi warna atau efek sehingga menimbulkan kesan tidak realistik dan berlebihan. Era baroque merupakan suatu era perubahan dari Renaissance yang cenderung simetris menjadi bentuk-bentuk dinamis, lengkung, dan berlebihan. Pada era Baroque, juga dikenal hedonisme dan peleburan elemen arsitektural dalam perancangan kota seperti implementasi patung/sculpture dalam perancangan kota di era Baroque.

Kota-kota di era Baroque menerapkan konsep bangunan peribadatan sebagai pusat pemerintahan, hal ini bisa diterka bahwa masyarakat era Baroque memiliki motivasi hidup bersosialitas.Beberapa poin ciri-ciri arsitektur Baroque antara lain:

a.    Denah di bagian sudut diselesaikan dengan bentuk lengkung

b.    Pilar-pilar berpilin

c.    Ornamen membentuk 3 dimensi sehingga muncul keluar 

d.   Banyak menggunakan hiasan pahatan dan menggunakan warna-warna cerah.

 8. Era Modern (abad 20-an)

 Era modern merupakan era besar perubahan arsitektur. Diabad 20 terdapat peristiwa-peristiwa penting seperti perang dunia I 1911-1918 memiliki pengaruh dalam perubahan arsitektur menjadi arsmo/arsitektur modern. Dalam peperangan tersebut, dunia arsitektur mengalami kerugian sangat besar, karena karya-karya arsitektur menjadi hancur dan rusak akibat peperangan. Diakhir tahun 1918 sudah bermunculan ide-ide kreatif para arsitek untuk menuju arsmo. Arsitektur modern disini juga pastinya berpengaruh pada perancangan kota modern. Beberapa poin ciri-ciri perancangan kota modern sebagai pengaruh arsitektur modern antara lain:

a. Motivasi masyarakat untuk hidup memenuhi kebutuhannya, bukan lagi faktor keamananyang utama.

b.    Penggunaan material modern seperti baja dan kaca.

c.    Arsitek kota dimanjakan dengan temuan mesin-mesin modern dalam pembangunan.

d.    Kota membentuk pola yang jelas seperti linier, grid, radial.

e.  Media lahan tidak hanya berupa tanah, terdapat inovasi kota secara ekstrim seperti underwater city dan floating city.

f.  Terdapat inovasi seperti garden city, kota ini berpola radial, dengan kota pusat yang dikelilingi kota-kota kecil berkonsep garden city. Kedua jenis kota pusat tersebut dipisahkan oleh area hijau juga dan dihubungkan dengan jalan-jalan.

  

 

Cukup sekian apa yang bisa saya tuliskan pada kesempatan ini, semoga bermanfaat.. Mohon maaf atas segala kekurangannya.
Kritik dan sarannya saya tunggu…
Terima kasih…
Wassalam….

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar